Primacy Effect

Barangkali, bagi penyuka filem-filem fiksi, tahu atau pernah mendengar istilah butterfly effect. Istilah yang dipergunakan sebagai judul filem ini adalah satu dasar dari teori ketidakteraturan (chaos). Sebuah teori yang berusaha memahami kejadian-kejadian kecil alam di kondisi awal, yang mempengaruhi peristiwa atau sistem yang besar di masa kini dan masa depan. Singkatnya, sebuah peristiwa besar tidaklah berdiri sendiri melainkan ada peristiwa kecil di masa lalu, yang mungkin tidak disadari atau terlewatkan dari pengamatan.

Sayangnya saya tidak akan bercerita tentang butterfly effect, apalagi filemnya. Selain ga mudeng konsepnya juga ga pernah nonton sampai habis filemnya hehehehe. Saya hanya akan menyomot istilah primacy effect (lumayan, ada“effect” nya juga) untuk membenarkan tema yang saya jadikan tulisan ini. Temanya: Sumber yang saya percaya membuat saya ragu terhadap kebenaran yang saya terima. Beehhh! Bingung kan?! Kalau begitu, saya sarankan untuk terus membaca tulisan saya!(maaf, agak memaksa)

Konon, berita-berita di internet 70% adalah bohong (hoax) dan sisanya harus dibuktikan terlebih dahulu bohong atau tidak . Maka , sewaktu saya membaca tentang seekor tokek seberat 64 kg saya langsung yakin kalau itu bohong. Saya membacanya dari postingan yang terdapat di kaskus, dan membuka link ke sumber pertamanya di tribunnews.com(http://www.tribunnews.com/2010/05/06…-rp-179-miliar). Sampai disini saya tetap yakin bahwa berita itu bohong.

Tapi keesokan harinya secara tidak sengaja saya membuka situs harian kompas dan menemukan berita yang sama( http://regional.kompas.com/read/2010/05/07/15334598/Wow..Tokek.Raksasa.Laku.Rp.179.Miliar). Saya jadi ragu, jangan-jangan berita tersebut benar. Saya amati fotonya untuk mencari kejanggalan-kejanggalan yang ada. Saya percaya kompas tidak sembarangan mempostingnya tanpa melakukan analisa terlebih dahulu. Sebelum keraguan tersebut benar-benar membesar, saya menemukan artikel yang sama(tanpa foto) di website harian The Jakarta Post!(http://www.thejakartapost.com/news/2010/05/08/64kg-gecko-sold-20m-report.html) Maka lenyaplah keragu-raguan saya terhadap kebenaran berita tersebut. Saya menjadi takjub dengan keberadaan Tokek yang sangat besar tesebut. Saya percaya kredibilitas Kompas, The Jakarta Post dan juga detik.com yang memberitakan hal yang sama. Mereka bukanlah media yang suka membuat sensasi dengan artikel atau berita bohong. Lagipula tribunnews.com, tempat saya membaca sumber berita awal adalah satu group dengan kompas.

Namun kemudian saya menyadari bahwa sikap saya tersebut bias alias berpeluang salah. Selama ini, content tulisan di dalam detik.com, Kompas dan The Jakarta Post sering dikutip atau malah di jiplak habis oleh portal berita lainnya. Televisi pun ternyata sering mengutip berita dari ketiga media online tersebut. Wajarlah kalau content media online itu dapat dipercaya. Sehingga, di kala terdapat tulisan yang tidak logis, logika kita pun serta merta menerimanya sebagai logis dan dipercaya. Sikap inilah yang di sebut sebagai primacy effect. Berita tersebut mempunyai nilai kebenaran oleh karena kondisi awalnya, saya sudah percaya dengan media yang memuatnya. Jadi, content berita tersebut efektif mempengaruhi keragua-raguan saya, saat ditempatkan pada sumber yang di percaya. Mirip seperti butterfly effect, karena pengamatan terhadap hal-hal kecil saya abaikan, ahirnya saya mendapatkan informasi yang salah.

Kembali ke foto di tokek raksasa tersebut. Kalau hanya mengandalkan pengamatan sekilas, pasti percaya dengan ukuran raksasa hewan melata itu. Tapi sedikit perhatian pada ojek utama dan latar belakangnya, maka akan tampak kejanggalan-kejanggalannya
1. Bayangan objek kaki manusia di latar belakang tidak ada (huaaa seremmm). Perhatikan, bukankah benda tempat duduk orang tersebut mempunyai bayangan? Tapi, mengapa kaki kanan orang itu tidak berbayang? Padahal jika melihat arah cahaya yang datang tidaklah mungkin bayangan kakinya berada di luar jangkauan lensa kamera.

2. Efek blur. Terdapat efek blur menggunakan pada foto bagian moncong tokek. Efek blur ini biasanya digunakan menghaluskan bagian pada foto yang baur. Saat saya zoom 800% setiap satu piksel kelihatan jelas Piksel-piksel yang baur, menunjukkan foto itu telah direkayasa dengan efek blur.

3. Terahir, rincian meta data foto yang saya unduh dari kompas dan tribunnews, ternyata foto tersebut telah mengalami pengeditan menggunakan software adobe photoshop. Eureka!
Jadi, menurut saya, sumber atau kondisi awal yang terpercaya suatu saat dapat menyesatkan Anda jika selalu menerima tanpa mencoba untuk mengkritisi keyakinan-keyakinan awal Anda. Betul? Betul, betul, betul..!

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s