Elegi Pekerja Sosial

Suatu pagi menjelang siang, seorang sejawat yang juga pekerja sosial terkejut, ternyata sepotong roti yang baru melewati kerongkongannya sudah kadaluarsa. “Pantes..rasanya agak laen”, begitu katanya dengan tetap mengunyah potongan berikutnya. Apa yang mau dikata? Roti tawar dua tandan sudah dibeli. Memang, rencana awalnya hanya untuk persediaan sarapan pagi. Tapi toh, malah jadi menu satu-satunya selama beberapa hari. Bukan untuk diet atau alasan kesehatan lainnya, tapi benar-benar tulus untuk penghematan!

Penghematan merupakan startegi ketahanan diri seorang pekerja sosial yang berada jauh dari sumber-sumber ekonomi keluarga. Kala isi kantong mulai menipis, tidaklah etis meminta kiriman dari akang, teteh, pak’e atau mbok’e di rumah. Yang mereka ketahui kepergian kita adalah untuk bekerja. Bekerja artinya untuk mencari uang terlepas dari niat-niat terselubung lainnya. Kalau pergi untuk mencari uang, lantas tiba-tiba meminta kiriman dari keluarga, pastilah memancing kecurigaan. Curiga kalau kita terlalu boros dan berfoya-foya di tempat kerja. Curiga kalau honor belum juga dibayar-bayar oleh lembaga yang mengirim kita. Curiga, jangan-jangan, sudah punya pacar atau selingkuhan baru di sana?

Pekerja sosial adalah profesi yang mulia. Mengutip pernyataan seorang doktor, pekerja sosial berperan dalam mengobati luka-luka kemanusiaan karena kemakmuran ekonomi di belahan dunia lain. Sebuah tanggungjawab yang besar. Karenanya, pekerjaan sosial dan pekerja sosial sebagai praktisi profesional, dituntut senantiasa kreatif dan inovatif dalam menghadapi berbagai tantangan(Edi Suharto, Phd.). Termasuk tantangan dari dalam diri ataupun lembaga yang memayunginya. Kalau seorang pekerja sosial kesulitan untuk meyakinkan klien atau masyarakat yang di dampinginya, hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun kalau seorang pekerja sosial tidak dapat makan karena alasan tidak ada lagi dana untuk membeli makanan, wah itu namanya memprihatinkan.

“Akh, Anda terlalu mendramatisasi. Tidak mungkin tidak makan, apalagi kalau dia sudah lama tinggal di situ, masak sih sampai tidak bisa makan? Kalau seperti itu, berarti selama ini dia tidak dikenal sama masyarakat yang di dampinginya dong..atau jangan-jangan dia tidak kerja dan cuma jalan-jalan saja..”

Komentar kritis seperti di atas sangat mungkin muncul. Apalagi jika tulisan ini di baca di area hotspot café-cafe, plasa, hotel atau ruang ber AC sejuk lainnya di jakarta. Rasanya terlalu mengada-ada kalau seorang pekerja sosial profesional sampai mati kelaparan karena profesi yang dijalankannya. Faktanya, realitas di lapangan yang kejam telah memaksa seorang pekerja sosial menjadi buruh pemetik cabai di perkebunan milik masyarakat yang di dampinginnya, bahkan harus rela menjual sepeda motor yang telah setia menemaninya dalam bekerja. Semuanya itu untuk satu alasan, yaitu supaya bisa tetap makan. Dunia ini mempunyai dalil yang tidak berperasaan bagi siapa pun dan apa pun profesinya: Jika Anda tidak makan, silahkan tinggalkan dunia ini!

Lewat satu abad yang lampau, seorang Abraham Maslow sudah menduga-duga: Jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman manusia belum terpenuhi, maka sangat sulit untuk memicu kebutuhan lainnya yang lebih bersifat sosial. Tidak peduli apakah profesinya sebagai pekerja sosial atau relawan kemanusiaan. Lah wong untuk makan sendiri dan keluarga di rumah saja seret, bagaimana mungkin mendorong-dorong orang lain untuk peduli dengan persoalan sosial di sekitarnya?

Abraham maslow bisa jadi salah dalam menduga-duga. Tidak semua kebutuhan dasar manusia harus terpenuhi terlebih dahulu, lantas dorongan kebutuhan lainnya menyala. Kenyangkan perut, pastikan dana di rekening tabungan Anda tiap bulan tidak berkurang atau kalau bisa terus bertambah, barulah mulai membuktikan bahwa Anda bisa mempunyai prestasi yang disegani oleh orang lain. Tidak, saya yakin tidak demikian dalilnya. Apalagi bagi rekan-rekan pekerja sosial yang berada di lapangan.

Dalil Maslow bisa saja terbalik. Kepuasan seorang pekerja sosial datang dari penghargaan yang diungkapkan oleh pihak lain apapun bentuknya itu, serta peluang mengaktualisasikan dirinya secara paripurna(minjam jargonnya orde baru nih ^-^). Setelah semuanya itu terpenuhi maka semua dorongan kebutuhan yang bersifat mendasar hanya numpang lewat saja. Kala aktualisasi dirinya di tahap awal proses pekerjaan sosial diapresiasi oleh lembaga yang mempekerjakannya lantas diteruskan oleh supervisi berkelanjutan yang selalu memompa semangat dilapangan, maka tidak akan ada pertanyaan-pertanyaan: Kapan ya proyek selesai, atau kok sampai sekarang honor belum turun-turun? Jika kepuasan kerja tercapai artinya program di lapangan sukses! Dan masyarakat pun tidak akan membiarkan seorang pekerja sosial mati kelaparan karena kehabisan uang untuk membeli makanan. Janganlah, pada ahirnya seorang pekerja sosial menghabiskan waktu di kedai-kedai kopi sambil menyenandungkan reff lagu In The End dari Linkin Park berikut ini:

I tried so hard and got so far,
in the end,
It doesn’t even matter,
I had to fall,
to lose it all,
in the end,
It doesn’t even matter,

Lhokseumawe, 02 September 2007

Abdul Wahid S.
Pekerja Sosial Kesejahteraan Anak
Aceh Utara

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s