Miskin itu (tidak) Biasa!

Tidak terasa, kurang dari 4 bulan lagi umat islam akan memasuki bulan Ramadhan, bulan puasa. Di bulan puasa, identitas keimanan seseorang kian nyata. Kalau tidak ada iman, ya tidak akan berpuasa. Karena tujuan dari puasa tidak akan langsung terasa, yaitu takwa, yang menurut Dr Quraish Shihab memiliki arti terhindar dari siksa atau penderitaan. Lapar dan haus memang suatu penderitaan. Akan tetapi, lapar dan haus di bulan Ramadhan mencegah penderitaan penyakit yang disebabkan makan dan minum berlebihan. Lapar dan haus yang dirasa, kelak menjauhkan umat islam dari siksa neraka.

Saat kita menahan lapar dan haus di bulan Ramadhan nanti, ada lebih dari 13 juta anak di Indonesia yang kelaparan setiap harinya sepanjang tahun(World Food Programme/WFP 2007). Mereka terserang kelaparan karena miskin. Mereka ada di pojok-pojok desa terpecil, kolong-kolong jembatan penyeberangan, barak-barak pengungsian, bahkan di perkarangan rumah atau tempat kerja kita. Sedangkan kita, lapar dan haus di tempat yang nyaman. Kita lapar dan haus karena iman. Kita lapar dan haus karena ingin terhindar dari siksa neraka dan kelak masuk surga. Namun, pantaskah? Pernah, seorang kyai pendiri salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia membimbing para santrinya membaca Al-Quran dan selalu berhenti pada ayat ke-3 surat Al-Ma’un: walaa yahudhu alaa thoaamil miskin..Ketika santrinya bertanya mengapa mereka tidak meneruskan bacaan ayat selanjutnya? Sang Kyai justru balik bertanya kepada santrinya, “Apakah kalian sudah memberi makan orang-orang miskin?”

Kemiskinan telah menyebabkan lebih dari 30.000 anak-anak di seluruh dunia meninggal setiap harinya oleh beragam penyakit yang seharusnya dapat dicegah (UNDP 2002). Mulai dari penyakit infeksi hingga kelainan genetik yang menakutkan. Seperti Fitriani, 9 tahun, yang melewati masa anak-anaknya dengan mengenaskan. Lima tahun lalu, gadis cilik ini divonis oleh dokter mengidap thallasemia. Suatu kelainan genetik yang mengecilkan ukuran sel darah merah secara drastis sehingga harus mendapatkan transfusi setiap bulannya. Meski transfusi dan perawatan diberikan secara cuma-cuma oleh pelayan kesehatan (PMI & RS), akan tetapi tingginya harga obat-obatan penunjang seringkali menghambat proses penanganan. Seringkali, Fitriani harus tergolek tak berdaya di rumahnya selama beberapa hari. Padahal keterlambatan pemberian transfusi dapat menurunkan kesadaraannya, koma, dan bahkan meninggal dunia seperti saudara kandungnya yang telah mendahului dengan penderitaan serupa. Dan semua itu benar-benar terjadi karena satu hal: kemiskinan.


Kemiskinan kata Rasulullah saw sangat dekat dengan kekufuran. Kufur artinya ingkar atau tidak mengakui. Sangat mungkin orang miskin tidak meyakini sifat-sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.”Buktinya, kami tetap miskin!”. Atau bulan Ramadhan adalah bulan di mana pintu-pintu rahmat dibuka oleh Allah SWT untuk mengabulkan doa-doa setiap hambanya. “Tapi, nyataannya, kami miskin-miskin juga, kok?!”. Dus, orang miskin itu mempercayai dari apa yang mereka saksikan dengan kasat mata. Seing is believing. Jika mengemis adalah cara yang mudah mendapatkan uang puluhan ribu, kenapa harus percaya bahwa kerja keras bertahun-tahun dapat meningkatkan taraf hidup? Saksikanlah selepas kita berkhidmat kepada Tuhan di masjid-masjid pada hari Jumat! Dari mulai orang tua hingga anak-anak balita yang menyodorkan tangan mungilnya untuk meminta sedekah. Dan saya yakin, sebagian besar dari kita akan memberikan uang yang jumlahnya tidak cukup untuk membeli sepiring nasi. Tapi, alam bawah sadar kita sering kali usil menghitung-hitung: “Seribu rupiah kalau dikali dengan seratus jamaah sama dengan seratus ribu rupiah. Wahh!”

Pengemis adalah potret buram kemiskinan. Maksud saya, jika puluhan pengemis berbaris dan difoto, lantas hasilnya disebut “Potret Orang-Orang Miskin”, kita harus ragukan itu!:-) Banyak pengemis yang ber HP lebih canggih dari yang Anda punya. Tidak jarang rumah mereka di desa lebih mentereng dibandingkan “Pondok Mertua Indah” yang Anda tempati. Mengemis bukanlah pekerjaan orang-orang miskin yang harus dikasihani. Masih banyak orang miskin yang waras dan tetap bekerja keras tanpa harus memelas-melas. Pada umumnya mereka tetap berusaha sesuai kemampuan dan peluang yang ada. Namun, kenyataan hidup yang brutal telah memperlakukan mereka secara tidak adil, terpinggirkan sekaligus terpojok oleh sistem yang ada.

Sistem yang ada adalah termasuk kita atau Anda, dengan perannya masing-masing, yang hingga detik ini tidak atau belum menjadi orang miskin. Jika saat ini Anda mengeyam pendidikan di lembaga pendidikan bergengsi, maka ada ratusan calon siswa yang tersingkir atau bahkan tidak pernah melanjutkan pendidikan lagi. Jika saat ini Anda mempunyai pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan keahlian yang mumpuni, maka ada jutaan pengangguran yang tidak berdaya menghadapi tuntutan kualifikasi. Jika sekarang Anda merasa aman dengan jabatan dan penghasilan yang memadai, maka masih banyak pegawai lepas yang cemas dengan honor yang tidak pantas. Akan tetapi, orang miskin yang beriman dan berserah diri kepada Allah SWT selalu percaya, bahwa di setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan. Klise memang, tapi itulah keyakinan yang bisa mengibur diri menghadapi sistem yang tidak berperasaan ini!

wallahualam bis showab.

Dari sebuah catatan harian saya di kantong kemiskinan
yang kaya akan sumber daya alam
Matangkuli, 2007

Advertisements